Portal Berita Hari Ini

Pasien Corona Yang Diikat Di Toba Meninggal Dunia di RS Adam Malik

Medan, Nusantaratop – Seorang pria pasien dinyatakan COVID-19 Salamat Sianipar (45) yang sempat di ikat keroyok warga Desa Pardomuan, Silaen Kabupaten Toba telah dinyatakan meninggal dunia di RSUP Haji Adam Malik pada Minggu (1/8/2021) sore sekira pukul 16.30 WIB.

Sebelumnya, Salamat yang dinyatakan postip Corona disebutkan saat itu ingin menyebarkan virus tersebut ke tiap orang. Kendati demikian hingga warga lakukan pemaksaan untuk mengikatnya.

Bahkan, hal itu pun viral di berbagai media sosial termasuk salah satu instagram @jhosua_lubis ponakan almarhum Salamat Sianipar (45).

Baca Juga : Viral di Toba, Warga Ikat Seorang Pasien Yang Disebut Ingin Tularkan COVID – 19

Anak Salamat Sianipar menceritakan pesan terakhir ayahnya agar jadi anak sukses kelar kuliah untuk bahagiakan keluarga.

“Terakhir kali bapak berpesan untuk jaga mama dan adik. Bapak juga bilang aku harus sekolah sampai kuliah. Biar sukses dan bisa bahagiakan keluarga,” kata anak pertama Selamat, Anastasya Sianipar melalui telepon seluler, Senin (2/8/2021), seperti dilansir dari Tribun Medan.

Dia menjelaskan Salamat juga berpesan kepada ibunya agar senantiasa sehat agar bisa merawat dan melihat anak – anaknya sukses.

Anastasya sendiri menganggap Selamat sebagai seorang ayah yang bagaikan pahlawan. Karena ayahnya itu teramat menyayanginya sebagai anak pertama.

“Bapak sih yang paling bisa menaklukan keras kepala aku dan bapak selalu bawa kue ulang tahun,” sebut Anastasya yang masih duduk di kursi kelas 2 SMP.

Jasad Salamat Sianipar Di RSUP Adam Malik (Foto sumber: Tribun Medan)

 

“Dan dia suka marah – marah sih. Tapi aku suka dengarnya. Karena itu yang terbaik menurut aku,” lanjutnya.

Ia sangat terpukul atas kepergian ayahnya, terlebih setelah melewati insiden yang tragis tersebut.

Tasya pun menjelaskan sekira pukul 17.00 WIB tadi telah balik dari RSUP Adam Malik.

Karena nanti pagi sekira pukul 04.00 WIB ayahnya baru akan dibawa ke kampung. Kini, ia bersama keluarganya sedang tidur di rumah saudaranya di Kecamatan Medan Labuhan.

Ia pun menceritakan belum sempat melihat kondisi fisik ayahnya yang telah meninggal dunia.

Sebab, Salamat adalah pasien Covid-19 dan telah dibungkus di kamar mayat.

“Tadi kami sudah datang dan pulang sekitar pukul 17.00 WIB karena besok pagi sekitar pukul 04.00 WIB baru pulang ke kampung,” ujarnya.

Dia pun menjelaskan sampai saat ini belum tahu jelas apa penyebab kematian ayahnya.

Apakah karena Covid-19 atau karena bekas pemukulan yang diterimanya dari warga.

Ia pun memberikan foto terakhir ayahnya di RSUP Adam Malik. Kondisinya telah tergeletak dengan melipat tangan di atas bed rumah sakit.

Salamat terlihat mengenakan baju kemeja panjang hitam dan celana panjang hitam.

Merujuk pada keterangan Sekretaris Daerah Kabupaten Toba Audi Murphy Sitorus, yang dikonfirmasi www.tribun-medan.com pada Sabtu (24/7/2021), bahwa Salamat Sianipar ini mengalami depresi.

Salamat Sianipar dituduh ingin menulari warga dengan penyakit yang sama.

“Kemarin saat terpapar (Covid-19), entah stress atau apa, asal ketemu sama orang, dipelukinya orang supaya kena juga,” kata Audy.

Audy juga mengatakan, bahwa Salamat Sianipar juga ingin memeluk Wakapolsek Silaen yang datang ke lokasi.

“Pokoknya tindakannya aneh. Bahkan Wakapolsek pun datang waktu itu lansung mau dipeluknya. Bidan desa itu juga saat mau memakaikan APD langsung dipeluknya,” pungkas Audy.

Atas tudingan itu, warga kemudian beramai-ramai menangkap Salamat Sianipar.

Dia kemudian diikat, diseret di jalanan, dan didorong-dorong menggunakan kayu.

Bahkan dalam rekaman video yang beredar, Salamat Sianipar dipukuli kayu oleh massa hingga tak berdaya.

Pada Jumat (23/7/2021), Salamat Sianipar kemudian dibawa ke RSUD Porsea untuk menjalani perawatan.

Baca Juga : Pasien Yang di Ikat Disebut Penyebar Corona Melarikan Diri, Ditemukan PBB di Sawah

Sempat Melarikan Diri 

Berdasarkan keterangan pemerintah daerah, Salamat Sianipar sempat melarikan diri dari RSUD Porsea tatkala menjalani perawatan.

Kemudian pada Sabtu (24/7/2021), Salamat Sianipar ditemukan pemerintah daerah di Kecamatan Siantar Narumonda.

Dalam kondisi tak berdaya, Salamat Sianipar kemudian dibawa ke Puskesmas Silaen.

Lantaran kondisinya yang tak memungkinkan dan video penyiksaannya viral, pemerintah daerah kembali merujuk Salamat Sianipar ke RSUD Porsea untuk menjalani perawatan.

Bupati Toba Turun Tangan

Karena kasus penganiayaan dan penyiksaan terhadap Salamat Sianipar viral di media sosial, Bupati Toba Poltak Sitorus dan Wakilnya Tonny M Simanjuntak kemudian turun tangan.

Poltak Sitorus bersama perangkat pemerintah daerah mendatangi RSUD Porsea untuk melihat warganya yang nyaris dibantai dengan keji itu.

“Kami datang untuk memastikan agar pasien tersebut mendapatkan pelayanan yang baik dari pihak RS,” kata Poltak Sitorus di RSUD Porsea, Sabtu (24/7/2021).

Dia mengatakan, karena sebelumnya Salamat Sianipar dituduh melarikan diri, pihaknya meminta petugas Satpol PP berjaga di RSUD Porsea, khusus mengawasi korban.

“Pasien tersebut perlu ditangani dengan perlakuan khusus karena ada gejala depresi. Harus ditempatkan dalam satu kamar tersendiri, jadi tidak digabung dengan pasien yang sedang menjalani perawatan karena terkonfirmasi positif covid,” kata Jubir Satgas Lalo H Simanjuntak (red)

Sumber : Tribun Medan

Beri balasan

Alamat email Anda tidak akan ditampilkan.